Selasa, 24 Juli 2012

Al-Quran dan Sains: Kehidupan Sosial Semut


Nama: Resti Rahayu
Nim: 252100023

Al-Quran dan Sains: Kehidupan Sosial Semut
     Di masa lalu, Para ilmuwan, meyakini bahwa kehidupan binatang yang termasuk kelompok serangga berjalan atas dasar insting belaka, dan bukan berdasarkan suatu sistem perilaku yang teratur dan tertib.
Namun setelah dicapainya kemajuan dan perkembangan pengetahuan tentang dunia serangga, yang didasarkan pada ilmu fisiologi yang membahas fungsi setiap anggota tubuh yang dimilikinya, juga ilmu genetika, para ilmuwan mendapatkan bahwa kehidupan serangga berjalan di atas dasar fungsi-fungsi tertentu—sesuai dengan sifat genetika yang mengatur perilakunya.
Salah satu jenis serangga yang menarik penelitian mereka adalah semut. Di mana jenis serangga ini memiliki sistem kehidupan yang tertib yang membatasi perilaku tiap-tiap anggota masyarakatnya. Untuk tempat tinggalnya, semut biasanya hidup secara berkelompok di suatu tempat tertentu. Di mana terkadang, sekelompok semut bisa memenuhi satu lembah yang luas sebagai tempat tinggal mereka.
Mereka hidup atas dasar kerjasama di antara sesama anggota kelompok. Ketika mereka dihadapkan pada rintangan yang berupa air, misalnya, maka semut-semut yang muda, khususnya yang jantan dan memiliki badan yang kuat akan membangun suatu jembatan dengan cara mengaitkan kaki mereka masing-masing, sehingga semut-semut yang lemah dan terluka serta yang sudah tua atau masih kecil, bisa melewati rintangan itu dengan selamat. Pembuatan jembatan ini adalah merupakan perintah dari seorang ratu semut yang memimpin kerajaan mereka.
Yang unik, di kerajaan semut pun terdapat ‘majelis syura’ yang anggota-anggotanya bertugas untuk memberikan masukan kepada ratu, dalam menetapkan setiap keputusan yang akan diambilnya, terlebih pada saat-saat genting.
Di kerajaan semut ini, yang menjadi pemimpin adalah semut betina dan bukan semut jantan. Karenanya mereka hanya memiliki ratu, dan tidak memiliki raja. Fenomena ini, merupakan hal yang biasa terjadi dalam kelompok serangga. Adapun sebabnya, dikarenakan bentuk tubuh sang ratu yang besar dan peranan penting yang dimainkannya. Di mana serangga jantan memiliki peranan yang kurang penting dibanding peranan serangga betina.
Para betina memiliki tugas antara lain; mendidik, menjaga dan mengawasi pertumbuhan anak-anaknya, menyiapkan dan menyimpan persedian makanan. Adapun jantannya, hanya bertugas untuk mempertahankan dan membela kehidupan mereka. Untuk itu, mereka akan mendapatkan imbalan dengan dipenuhinya semua kebutuhan pokok mereka tanpa harus berpayah-payah bekerja. Semua ini berjalan berdasarkan perintah dari ratu dan para pembantunya.
Tentunya, interaksi yang terjadi antara sesama semut membutuhkan suatu media komunikasi. Dan sesuai penelitian, terdapat bukti bahwa semut ini mempunyai ‘bahasa khusus’ yang mereka gunakan untuk saling berkomunikasi di antara sesama mereka, sehingga kehidupan mereka bisa berjalan secara teratur dan tertib.
Alquran, secara menakjubkan telah membuka tabir rahasia kehidupan semut ini, sejak empat belas abad yang lalu. Hal itu kita dapatkan dalam firman Allah SWT di surah An-Naml ayat 18: "Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: "Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya. Sedangkan mereka tidak menyadari."
Dalam ayat di atas, kita mendapatkan bahwa Alquran telah  membicarakan tentang sistematika yang mengatur kehidupan semut yang berjalan sesuai dengan sistem yang telah disepakati di antara mereka. Termasuk tentang struktur tempat tinggal mereka yang dibangun dengan teknik arsitektur yang teliti, disesuaikan dengan lingkungan di mana mereka tinggal. Hal ini tercermin dalam firman Allah SWT: "udkhuluu masaakinakum".
Demikianlah, apa yang telah dijelaskan di atas, merupakan bukti kebenaran bagi Alquran sebagai wahyu Ilahi. Sebelum para ilmuan modern meneliti ini semua, Al-quran telah lebih dahulu menggungkap fakta ini dengan jelas. 

Resume yang sudah mengirimkan Tugas Sejarah Sains Islam

Resume yang sudah mengirimkan Tugas Sejarah Sains Islam :


Sumbangan Cendekiawan Islam terhadap Peradaban Dunia


Sumbangan Cendekiawan Islam terhadap Peradaban Dunia
Nama    : Moh. Farhan
            NIM     : 252100015
Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kepribadian dan perkembangan peradaban manusia, agar manusia terbebas dari kebodohan, kegelapan dan kesesatan. Allah mengutus Rasulullah untuk mendidik manusia menjadi makhluk yang berakhlak mulia dan terlepas dari kesesatan. Sebagaimana firman Allah: “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”. (QS.Al Baqarah:151)
Rasululah berhasil mendidik para sahabat menjadi generasi terbaik di sepanjang sejarah, generasi pemberani, tangguh, dermawan, cerdik,cerdas, mahir, berakhlak mulia, disiplin dan zuhud, maka tak heran kalau Muawiyyah mengatakan: “Aku tidak pernah melihat seorang pendidik sebelum dan sesudahnya lebih baik darinya.
Pada zaman sesudahnya pada masa keemasan kekhalifahan Islam, tercatat dengan tinta emas sumbangsih para ulama cendekiawan Islam dalam ilmu pengetahuan yang menghantar peradaban dunia ke peradaban yang semakin maju. Pada saat anak-anak kota Baghdad yang bermandikan cahaya bermain dengan teropong bintang mereka mengeksplorasi antariksa dan majelis-majelis ilmu digelar di masjid-masjid dan perpustakaan, di saat yang sama London masih berupa rawa-rawa yang penduduknya percaya kepada jimat-jimat dan para pemimpinnya mengatakan bahwa matematika adalah ilmu yang tercela dan terkutuk sedangkan New York waktu itu mungkin masih berupa hutan belantara.
Dalam kata-kata Carli Fiorina, seorang CEO Hewlett Packard yang visioner berkata : “Adalah para arsitek yang mendesign bangunan-bangunan yang mampu melawan gravitasi. Adalah para matematikawan yang menciptakan aljabar dan algoritma yang dengannya komputer dan enkripsi data dapat tercipta. Adalah para dokter yang memeriksa tubuh manusia, dan menemukan obat baru untuk penyakit. Adalah para astronom yang melihat ke langit, memberi nama bintang-bintang, dan membuka jalan bagi perjalanan dan eksplorasi antariksa. Adalah para sastrawan yang menciptakan ribuan kisah; kisah-kisah perjuangan, percintaan dan keajaiban. Ketika negeri lain takut akan gagasan-gagasan, peradaban ini berkembang pesat dengannya dan membuat mereka penuh energi.
Ketika ilmu pengetahuan terancam dihapus akibat penyensoran oleh peradaban sebelumnya, peradaban ini menjaga ilmu pengetahuan tetap hidup, dan menyebarkannya kepada peradaban lain. Tatkala peradaban barat modern saat ini sedang berbagi pengetahuan, peradaban dunia Islam yang sedang saya bicarakan ini sudah bermula sejak tahun 800 hingga 1600, yang termasuk di dalamnya Dinasti Ottoman dan kota Baghdad, Damaskus dan Kairo, dan penguasa agung seperti Sulaiman yang Bijak. Walaupun kita sering kali tidak menyadari hutang budi kita kepada peradaban ini, sumbangsihnya merupakan bagian dasar dari kebudayaan kita. Teknologi industri tidak akan pernah hadir tanpa kontribusi para matematikawan arab.”
Itulah pengakuan seorang modern barat terhadap sumbangsih cendekiawan islam terhadap peradaban dunia. Dapat kita sebut beberapa saja ulama cendekia tadi, sbb:
Muhammad Ibn Musa Al-Khawārizmi: yang juga dikenali sebagai Al-Khawārizmi (lahir di Khawarizm, Usbekistan 780 – wafat diperkirakan pada tahun 840) seringkali disebut sebagai bapak aljabar. Istilah aljabar (algebra dalam bahasa latin) sendiri berasal dari buku karangannya yang terkenal Hisabul Jabar wal Muqābilah (Ilmu pengurangan dan penambahan). Istilah algorisma dan algoritma juga berasal dari latinisasi nama Al-Khawārizmi. Al-Khawārizmi adalah pakar dalam bidang matematika, astronomi dan geografi.
Abul Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail Buzjani: Lahir di Buzhgan, Nishapur, Iran (940 – 998) adalah seorang ahli astronomi dan matematikawan dari Persia. Pada tahun 959, Abul Wafa pindah ke Irak, dan mempelajari matematika khususnya trigonometri di sana. Dia juga mempelajari pergerakan bulan; salah satu kawah di bulan dinamai Abul Wáfa sesuai dengan namanya. Salah satu kontribusinya dalam trigonometri adalah mengembangkan fungsi tangen dan mengembangkan metode untuk menghitung tabel trigonometri.
Jabir Ibnu Hayyan: Pengarang kitab “Al Kimya” yang diterjemahkan oleh bangsa barat menjadi “Alchemy”, kitab rujukan ilmu kimia/chemistry. Cendekiawan masa Dinasti Ummayah abad ke-8 Masehi.
Ibnu Sina: Bangsa barat memanggilnya Avicenna. Dunia menasbihkanya sebagai “Bapak Kedokteran Modern”, pengarang kitab Qanun fi Thib (Canon Of Medicine) yang merupakan rujukan di bidang kedokteran dunia selama berabad-abad.
Itulah para ulama cendekia Islam yang berkitabkan Al Qur’an dan bertauladankan Rasulullah SAW, yang mengeksplorasi ayat-ayat Allah dalam Al Qur’an yang kemudian menelurkan karya-karya ilmu pengetahuan lentera peradaban dunia. Bila Carli Fiorina, sang CEO Hewlett Packard mau meneliti lebih jauh maka akan muncul pertanyaan “Buku apa yang mereka baca sehingga orang-orang arab tadi “keranjingan” meneliti dan mencipta?” dan “Siapakah gerangan “Bapak Pendidikan” yang menginspirasi dan menjadi teladan mereka?”. Maka dia akan mendapat jawaban: Al Qur’an dan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam.
Dari sini kita yakini Allah-lah “…Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al Baqarah: 4-5), Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya(Muhammad) ayat-ayat yang terang (Al-Quran) supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya dan Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. “ (QS. Al Hadiid: 9).
Al Qur’an telah menjadikan semenanjung arab yang penduduknya tak bisa baca tulis dan negerinya begitu kering sehingga para penjajah-pun enggan meliriknya, kemudian menjadi pusat peradaban dan menjadi guru dunia. Inilah bukti nyata keagungan Al Qur’an. Al Qur’an meninggikan ilmu dan akhlak manusia bila manusia mau membaca, memahami dan mengamalkanya.
“Sesungguhnya Allah, dengan kitab ini (Al Qur’an) meninggikan derajat kaum-kaum dan menjatuhkan derajat kaum yang lain.” (HR. Muslim)

METODE ILMIAH ILMUWAN MUSLIM PADA ABAD PERTENGAHAN


Tugas SPI Sains Islam
M. Khoirun Nizar
252100016
METODE ILMIAH ILMUWAN MUSLIM
PADA ABAD PERTENGAHAN
Islam sejak zaman dahulu telah memiliki budaya talabul ilmi / pencarian ilmu yang sangat kuat.Semua sumber-sumber agama Islam mendukung bahkan mendorong umat Islam untuk melakukan aktifitas ilmiah dimana saja berada. Bahkan pencarian ilmu merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh seluruh umat Islam hingga ajal menjemputnya. Tak heran jika kemudian lahir banyak ilmuwan Muslim pada abad pertengahan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Haitsam, Az Zahrawi, Al Biruni dan masih banyak lagi. Mereka dicatat oleh sejarah sebagai tokoh-tokoh peletak dasar keilmuan modern.
Jika dianalisis lebih mendalam, budaya yang telah mengakar dalam Islam tersebut ternyata telah diajarkan secara lengkap dalam alqur’an. Al-Qur’an senantiasa mengajarkan kepada umat Islam untuk mendasarkan sumber pengetahuan pada tiga sumber, yaitu pengalaman batin, alam, dan sejarah. Hal ini tidak lain karena budaya Islam yang berfokus pada pengalaman konkret (kenyataan) dan menuntut adanya observasi secara langsung terhadap alam guna memahami hakikat alam dan terutama demi memahami sifat ketuhanan.  Hal ini juga tidak lepas dari perintah yang ada dalam kitab Al-Qur’an agar memerhatikan pergantian siang-malam, peredaran bulan dan matahari serta peredaran planet karena Tuhan menampakkan tanda-tandanya melalui alam. Walaupun harus diakui bahwa ilmuwan-ilmuwan muslim banyak yang memperoleh wawasan ilmu dari alam pikir Yunani, akan tetapi ilmuwan-ilmuwan muslim menyadari bahwa apabila terus menyandarkan diri pada alam pikiran Yunani yang tida mendasarkan pemikirannya pada kenyataan maka akan terjadi kegagalan yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Metode observasi dan eksperiman lahir dalam kebudayaan Islam bukan karena suatu kompromi dengan pemikiran Yunani, tetapi karena ada pergulatan yang lama sekali dengan pemikiran itu. Pengaruh Yunani yang pada umumnya menyukai teori, bukan kenyataan, malah lebih mengaburkan pandangan orang Islam terhadap Al-Qur’an. Maka dengan semangat Al-Qur’an sebagai pedoman, ilmuwan-ilmuwan muslim melakukan revolusi terhadap alam pikiran Yunani, sebuah revolusi ilmiah. Menurut kebudayaan Islam bahwa ilmu harus dinilai dengan yang konkret, hanya kekuatan intelektual yang menguasai yang konkret-lah yang akan memberi kemungkinan kecerdasan manusia untuk dapat melampaui yang konkret, seperti dalam Al-Qur’an.
Terbukti Ilmuwan seperti Ibnu Sina, Al Haitsam dan Ar Razi senantiasa menggunakan metode penelitian empiris dalam aktifitas ilmiah mereka seperti yang dilakukan oleh Ilmuwan Muslim lain. Mereka menggali ayat-ayat Allah, kemudian mencurahkan usaha mereka melalui akal dan fikiran mereka, serta mengadakan observasi hingga kemudian mereka mampu melahirkan disiplin ilmu baru yang kemudian menjadikan mereka saintis Islam yang penemuannya diakui seluruh Dunia dan dimanfaatkan oleh seluruh umat manusia.
Wallahu a’lam...

METODOLOGI ULAMA’ KLASIK, BERSUMBER PADA WAHYU, BERSTANDART INTERNASIONAL


METODOLOGI ULAMA’ KLASIK,
BERSUMBER PADA WAHYU, BERSTANDART INTERNASIONAL
Oleh : Afifatul Mutammimah
252100002
Islam, muncul sebagai peradaban baru di dunia ini dimulai ketika Nabi membawa dan menyebarkan agama ini di jazirah Arab. Sepeninggal Nabi Muhammad SAW , Khulafaur Rasyidin tampil dengan hebatnya sehingga kejayaan Islam mampu menyebar sampai pada jazirah Afrika dan Asia. Kejayaan itu dilanjutkan oleh para Khalifah Bani Umayyah yang mampu memperluas wilayah Islam hingga ke benua Eropa dan Asia Tengah. Bersamaan dengan itu pula, semakin luasnya wilayah Islam, semakin sejahtera pula masyarakat di bawah naungan pemerintahan Islam. Bahkan mereka yang beragama non Islam pun merindukan pemerintahan Islam agar menguasai daerahnya supaya mereka terbebas dari penderitaan penjajahan dan tuntutan pajak yang tinggi. Pada Intinya, Islam mencapai masa kejayaan pada masa tersebut dan terus menerus maju dalam segala bidang hingga berakhir pada masa kejayaan yang dicapai oleh Imperium Turki Usmani.
Tak kalah menarik, Sejarah juga mencatatkan banyak nama-nama Ilmuwan Muslim yang berhasil menemukan penemuan-penemuan penting yang bahkan hingga kini masih bisa dinikmati oleh umat Manusia dimanapun berada. Lembaran sejarah dunia mencatatkan Ibnu Sina sebagai Bapak Kedokteran, Al Khawarizmi sebagai peletak dasar Algaritma, dan masih banyak lagi ilmuwan-ilmuwan muslim seperti Ibnu Rusyd, Al Kindi, al Biruni, Al Bitruji, Ibnu Bajjah, Ibnu Hayyan dan lain sebagainya. Mereka dikenal sebagai peletak dasar Ilmu-ilmu modern yang ditemukan oleh orang-orang barat.
Jika kita analisis, Metode yang digunakan para Ilmuwan Islam klasik ialah dengan cara menggali atas ayat-ayat Allah baik yang tertulis dalam Alquran maupun yang tersaji di alam semesta dengan menggunakan akal fikiran yang sehat serta usaha yang keras. Kedua ayat tersebut merupakan ciptaan Allah yang harus digali berdasarkan perumusan landasan-landasan teori yang bisa dikembangkan oleh manusia dengan menggunakan akalnya. Oleh karenanya, dalam Islam, ilmu pengetahuan berkembang begitu luas dan komprehensif. Demikian. Mereka telah mencapai kemajuan ilmiah yang fantastik pada abad pertengahan. Para sarjana muslim itu memang telah memiliki tradisi ilmiah yang khas dan tak sama dengan Barat.
 Beberapa contoh spektakuler dari prestasi ilmuwan-ilmuwan muslim seperti Muhammad bin Jarir al-Thabari, yang menulis sebanyak 40 halaman setiap hari selama 40 tahun. Ini berarti, jika dirata-ratakan satu bulannya 30 hari, beliau, selama 40 tahun, telah menulis sekitar 576.000 halaman. Berapa jilid buku yang telah dihasilkannya? Tak heran, jika ia sangat terkenal dan memberikan kontribusi yang signifikan pada bidang yang ditekuninya. Selain itu, beberapa tokoh ilmuwan yang terkenal menggunakan metode empiris eksperimental yang kini banyak ditiru oleh orang-orang Barat. Ilmuwan tersebut ialah Ibnu Sina dan Ar razi dan Al Haitsam.
Budaya Islam melalui semangat Al-Qur’an mendasarkan sumber pengetahuan pada tiga sumber, yaitu pengalaman batin, alam, dan sejarah. Hal ini tidak lain karena budaya Islam yang berfokus pada pengalaman konkret (kenyataan) dan menuntut adanya observasi secara langsung terhadap alam guna memahami hakikat alam dan terutama demi memahami sifat ketuhanan.  Hal ini juga tidak lepas dari perintah yang ada dalam kitab Al-Qur’an agar memerhatikan pergantian siang-malam, peredaran bulan dan matahari serta peredaran planet karena Tuhan menampakkan tanda-tandanya melalui alam. Walaupun harus diakui bahwa ilmuwan-ilmuwan muslim banyak yang memperoleh wawasan ilmu dari alam pikir Yunani, akan tetapi ilmuwan-ilmuwan muslim menyadari bahwa apabila terus menyandarkan diri pada alam pikiran Yunani yang tida mendasarkan pemikirannya pada kenyataan maka akan terjadi kegagalan yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Metode observasi dan eksperiman lahir dalam kebudayaan Islam bukan karena suatu kompromi dengan pemikiran Yunani, tetapi karena ada pergulatan yang lama sekali dengan pemikiran itu. Pengaruh Yunani yang pada umumnya menyukai teori, bukan kenyataan, malah lebih mengaburkan pandangan orang Islam terhadap Al-Qur’an. Maka dengan semangat Al-Qur’an sebagai pedoman, ilmuwan-ilmuwan muslim melakukan revolusi terhadap alam pikiran Yunani, sebuah revolusi ilmiah. Menurut kebudayaan Islam bahwa ilmu harus dinilai dengan yang konkret, hanya kekuatan intelektual yang menguasai yang konkret-lah yang akan memberi kemungkinan kecerdasan manusia untuk dapat melampaui yang konkret, seperti dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa aktifitas keilmuwan yang dilakukan oleh para saintis Muslim klasik memiliki ciri khas luar biasa antara lain bersumberkan wahyu yang merupakan sumber kebenaran mutlak serta menggunakan metodologi ilmiah berbasis pengalaman empiris.
Demikian wallahu a’lam...

Mukjizat Alquran tentang Embriologi


Mukjizat Alquran tentang  Embriologi

Prof Keith L Moore, guru besar Departemen Anatomi dan Biologi Sel Universitas Toronto terkagum-kagum dengan Alquran. Betapa tidak. Kitab suci umat Islam itu mampu menjelaskan proses penciptaan manusia secara detail, belasan abad sebelum teknologi kedokteran mampu mempelajarinya.
“Saya tak tahu apa-apa tentang agama, namun saya meyakini kebenaran fakta yang terkandung dalam Alquran dan sunah,” papar Moore yang terkagum-kagum dengan kandungan Alquran yang secara akurat menjelaskan perkembangan embrio manusia.
Alquran secara gamblang telah menjelaskan proses pembentukan embrio manusia. Alquran telah berbicara tentang pertumbuhan janin di dalam perut ibu fase demi fase, padahal janin dan pertumbuhannya tidaklah terlihat dengan mata kepala dan tidak mungkin juga dijelaskan hanya dengan duga dan kira.
”Saya sungguh sangat membahagiakan bisa membantu mengklarifikasi pernyataan Alquran tentang perkembangan manusia. Jelaslah bagi saya, pernyataan (Alquran) itu pastilah turun kepada Muhammad dari Tuhan,” papar Moore, ilmuwan terkemuka dalam bidang anatomi dan embriologi.
Proses penciptaan manusia di dalam rahim dijelaskan dalam Alquran surat al-Mu’minun ayat 12-14.
”Dan, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian, Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan segumpal darah. Lalu, segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus daging. Kemudian, Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain ….”
Dari ayat tersebut dapat disimpulkan adanya enam fase terbentuknya janin dalam rahim.
Tahap pertama, penciptaan janin disebut Sulalah dimulai dari saripati mani. Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan “ dari saripati air yang hina (air mani)”. Manusia bukan diciptakan dari seluruh mani yang keluar dari suami – istri, tapi hanya dari bagian yang sangat halus. Itulah yang dimaksud dengan “ Sulalah”
Menurut riset yang telah diteliti oleh para ahli sekarang, bahwa manusia itu tercipta dari satu sperma saja. Itu sangat sedikit sekali bila dibanding dengan sperma yang keluar dari laki-laki yang mencapai jutaan sperma. Sulalah adalah kata yang paling tepat dan cocok untuk menggambarkan proses terbentuknya janin ini, karena satu dari jutaan sperma ini bergerak menuju ke rahim untuk membuahi ovum dari wanita.
Tahap kedua, disebut Alaqoh. “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (‘Alaqoh ).” ‘Alaqoh berarti juga nama dari binatang kecil yang hidup di air dan di tanah yang terkadang menempel di mulut binatang pada waktu minum di rawa – rawa (yaitu sebangsa lintah ).
Bentuk janin pada fase ini sangat mirip sekali dengan binatang lintah tersebut. Bahkan kalau keduanya difoto bersamaan, niscaya manusia tidak akan bisa membedakkan bentuk dan gambar keduanya.
Tahap ketiga, Mudghah (Segumpal Daging). Dalam kelanjutan surat al-Mukminun dijelaskan ”Lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging.”
Tahap keempat, ditandai dengan muncul dan tumbuhnya tulang. “Dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. ”Para ahli dan spesialis dalam bidang medis telah menyimpulkan bahwa tulang itu muncul sebelum daging sebagai penutupnya. Setelah itu barulah muncul daging. Ini hanya baru diketahui oleh para ahli pada zaman sekarang, itu pun dengan bantuan alat – alat fotografi.
Tahap kelima, pembungkusan tulang dengan daging. “Lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging…” Didahulukannya penciptaan tulang sebelum daging, itu karena daging butuh kepada tulang untuk menempel padanya. Maka tulang mesti sudah ada sebelum daging.
Tahap keenam, adalah perubahan janin ke bentuk yang lain. “Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain..”
Menurut Dr Ahmad Hamid Ahmad, bersama dengan berakhirnya pekan ketujuh, panjang Mudghah sudah mencapai 8 – 16 milimeter.
”Termasuk yang membedakan pada periode ini adalah: bahwa bentuk tulang berbentuk bengkok menyerupai bulan sabit, kemudian mulai berubah lurus dan tegap. Di tambah lagi ada sesuatu yang membedakan janin dengan makhluk hidup yang lain, yaitu sempurnanya bentuk tubuh pada pekan kedelapan.
Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, ”Seseorang dari kamu ditempatkan penciptaannya di dalam perut ibunya dalam selama empat puluh hari, kemudian menjadi `alaqah selama itu pula (40 hari), kemudian menjadi mudhghah selama itu pula (40 hari) kemudian Allah mengutus seorang malaikat lalu diperintahkan empat kalimat (hal), dan dikatakan kepadanya:Tulislah amal, rizki dan ajalnya, serta celaka atau bahagia-(nya) kemudian ditiupkan ruh padanya.” (Hadits riwayat Imam al-Bukhari dari `Abdullah).
Begitulah, proses penciptaan janin di dalam rahim seorang ibu, hingga akhirnya melahirkan di usia kehamilan sembilan bulan.
Sumber : www.republika.co.id

*****
Subhanallah..
Kisah tersebut adalah salah satu bukti bahwa Alqur’an diperkuat dengan Hadist Rasul adalah merupakan mu’jizat, pedoman dan sumber dari segala ilmu pengetahuan. Saat ilmu medis dibelahan bumi manapun belum menemukan data mengenai proses pembentukan janin sampai terjadi kehamilan, Alqur’an telah menyebutkan itu secara jelas dalam surat Al-mu’minun serta diperkuat dalam hadis nabi. Hal ini menunjukkan kekuasaan serta ke-Maha Besar-an Allah. Alqur’an dan Hadis yang bersumber dari wahyu Allah telah membuktikan kesempurnaanya sebagai pedoman hidup dan sumber ilmu pengetahuan terlengkap sepanjang zaman.
Wallahu a’lam bish shawab..
*****

SITI ISTIQOMAH
252100025
FAI / SPI UNISSULA

IBNU AL HAITHAM Pakar Fisika Optik yang Jenius


IBNU AL HAITHAM
Pakar Fisika Optik yang Jenius
AHMAD ZAKIYUN NUFUS
(252100003)


            Sejarah mencatat salahsatu peletak dasar ilmu fisika optik adalah sarjana Islam Ibnu-al-Haitham atau yang dikenal dibarat dengan sebutan Alhazen, Avennathan atau Avenetan. Ilmuwan besar yang punya nama lengkap Abu Ali al-Hasan Ibnu al Haitham al-Basri al-Misri ini lahir di Basrah, Irak pada 965 M. Mengecap pendidikan di Basrah dan Baghdad, penguasaan matematikanya oleh Maz Mayerhof, seorang sejarawan dianggap mengungguli Eucildes dan Ptolemeous.
            Setelah selesai di kedua kota itu, Ibnu Haitham meneruskan pendidikannya di Mesir dan bekerja dibawah pemerintahan Khalifah al-Hakim (996-1020 M) dari Daulah Fatimiyah. Ia pun mengunjungi Spanyol untuk melengkapi beberapa karya ilmiahnya. Seperti sarjana Islam lainnya, Ibnu Haitham atau Alhazen tidak hanya mengiasai fisika, ilmu optik, namun juga filsafat, matematika, dan obat-obatan atau farmakologi. Tidak kurang dari 200 karya ilmiah mengenai berbagai bidang itu dihasilkan Ibnu Haitham sepanjang hidupnya.
            Karya utamanya tentang optik, yang mana naskah aslinya dalam bahasa Arab telah hilang, namun terjemahannya dalam bahasa latin masih ditemukan. Ibnu Haitham mengoraksi konsep Ptomeus dan Euclides tentang penglihatan. Menurut kedua ilmuwan Yunani itu dijelaskan bahwa mata mengirimkanberkas-berkas cahaya visual ke objek penghilatan sehingga sebuah benda dapat terlihat. Sebaliknya, menurut Ibnu Haitham, retinalah pusat penglihatan dan benda bisa terlihat karena memantulkan cahaya pada retina dibawa ke otak melalui saraf-saraf optik.
            Kepandaian matematis dari Ibnu Haitham terbukti ketika ia dengan sangat akurat menghitung ketinggian atmosfer bunmi yaitu 58,5 mil. Dalam karyanya Mizanul Hikmah, Ibnu Haitham banyak mengurai tentang masalah atmosfer ini, terutama berkaitan hubungan ketinggian atmosfer dengan meningkatnya kepadatan udara. Secara eksperimental, ia berhasil menguji berat benda meningkat dalam proporsinya pada kepadatan atmosfer yang bertambah.
            Ia juga membicarakan masalah yang berhubungan dengan pusat daya tarik bumi. Jauh sebelum Newton membahas masalah gravitasi, Ibnu Haitham telah membahasnya dan menjadikan pengetahuan tentang gravitasi itu untuk penyelidikan tentang keseimbangan dan alat-alat timbangan. Dalam kaitan itu pula, beliau mengurai dengan jelas hubungan antara daya tarik bumi dengan pusat suspensi. Penjelasannya mengenai hubungan antara kecepatan, ruang dan saat jatuhnya benda-benda diyakini menjadi ilham bagi Newton untuk mengembangkan teori gravitasi.
            Selain masalah cahaya dan atmosfer, Ibnu Haitham juga banyak melakukan eksperimen mengenai camera obscura atau metode kamar gelap, gerak rektilinear cahaya, sifat bayangan, penggunaan lensa, dan beberapa fenomena optikal lainnya. Metode kamar gelap atau camera obscura dilakukan beliau saat gerhana bulan terjadi. Ketika itu beliau mengintip citra matahari yang setengah bulat pada sebuah dinding yang berhadapan dengan sebuah lubang kecil yang dibuat pada tirai penutup jendela.
            Untuk semua eksperimen lensa, Ibnu Haitham membuat sendiri lensa dan cermin cekung melalui mesin bubut yang dimilikinya. Eksperimennya yang tergolong berhasil saat beliau menemukan titik fokus sebagai tempat pembakaran terbaik. Saat itu, beliau berhasil mengawinkan cermin-cermin bulat dan parabola. Semua sinar yang masuk dikonsentrasikan pada sebuah titik fokus sehingga menjadi titik bakar.
            Buku beliau tentang optik, Kitab al-Manazir diterjemahkan kedalam bahasa Latin oleh F. Risner dan diterbitkan di Basle pada 1572 M. Karyanya ini bersama karya-karya optik lainnya sangat mempengaruhi ilmuwan abad pertengahan seperti Roger Bacon, Johannes Keppler, dan Pol Witello. Diyakini, banyak karya-karya monumental dari mereka diilhami dari hasil eksperimen yang dilakukan Alhazer atau Ibnu Haitham.
            Menurut Philip K. Hitti, tulisan-tulisannya mengenai berbagai persoalan optik membuka jalan bagi para peneliti optik Barat di kemudian hari mengembangkan disiplin ilmu ini secara lebih luas. Semua kerya-karya itu diterjemahkan kedalam bahasa Eropa, termasuk Rusia dan Ibrani. Sejarawan terkemuka Amerika, George Sarton mengumpulkan karya-karya Ibnu Haitham dalam bukunya Introduction to Study of Science yang menajdi bacaan wajib bagi mereka yang mencintai ilmu. (R. A. Gunadi, 2002)
            Penemuan Ibnu Haitham di bidang teknologi khususnya dalam bidang optik ini mengingatkan masyarakat muslim sekarang bahwa orang muslim sejatinya adalah orang-orang yang sangan pintar. Tapi kenapa pada saat ini orang muslim seakan tertinggal dari orang non muslim, padahal yang menemukan alat-alat atau teori-teori yang sekarang dipakai pedoman bagi orang-orang non muslim sendi dulunya adalah teori orang-orang muslim, sperti Ibnu Haitham yang sedang dibahas sekarang ini.
            Karena penemuan ini, nama Ibnu Haitham diletakkan di Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Sultan Agung Semarang (Unissula). Salah satu alasannya karena Ibnu Haitham adalah orang muslim yang sangat memberi kontribusi terhadapa dunia teknologi. Terlebih karena Unissula sendiri sedang merintis untuk menjadi kampus peradaban dan The First Islamic Cyber University, sehingga setiap gedung yang berada di Unissula diberikan nama cendekiawan muslim pada masa dahulu yang tentunya memberikan kontribusi bagi kemajuan ummat.











DAFTAR PUSTAKA

 

R. A. Gunadi, M. S. (2002). Dari Penakluk Jerussalem Hingga Angka Nol. Jakarta: Republika.