Senin, 16 Juli 2012

ISU ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM


ISU ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Oleh: Rahmawati, Roy Widiastuti, Rina Herlina, Asa Amalia
A. Latar Belakang
Islam adalah agama yang haq hingga akhir masa. Islam agama yang komprehensif karena islam adalah tutunan dalam menjalani kehidupan ini, segala laku kita sudah tercantum tutunannya dalam al-Qurán dan al-Hadits jadi jika kita hidup dengan memegang tutunan itu maka layaknya seorang pengelana maka dia tidak akan tersesat karena dia mempunyai peta guna membuatnya sampai ketempat tujuan walaupun dalam menjalaninya ditempuh dengan susah payah.
Dalam Islam sebagaimana wahyu pertama yang diterima Rosulullah saw:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ   خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ   اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ  الَّذِي عَلَّمَ ابِالْقَلَمِ   عَلَّمَ اْلإِنسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah, 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1],, 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. al-‘Alaq, 1-5)
Adalah wahyu yang mengetengahkan ilmu yang harus dimiliki guna menjalankan agama Allah swt ini, yaitu dengan ilmu Allah, maka tidak heran mengapa Rosulullah menjawab: “saya tidak bisa membaca” bukan berarti beliau tidak bisa baca tulis atau bukan beliau bodoh yang tidak bisa menggunakan pikirannya. Justru jawaban tersebut menggambarkan pandangan yang jauh dan murni, seperti halnya para malaikat tatkala diperintahkan untuk menjelaskan al-Asma mereka menjawab:     سبحنك لا علم لنا الاماعلمتنا
Wahyu adalah diatas segalanya akalpun tak sanggup menjangkaunya, hanya qolbu yang bersih akan tersentuh oleh wahyu. Karena wahyu adalah bahasa Allah yang berbicara tentang hakekat kebenaran (Haq).
Sesungguhnya ilmu itu dari Allah yang diajarkan didalam kitabnya dan tidak pernah ada suatu ilmupun yang tidak diterangkan dalam al-kitab atau terlepas dari al-Qurán.
Jadi dalam kehidupan ini kita membutuhkan ilmu pengetahuan, baik dalam memahami Islam juga dalam memahami alam beserta isinya yang telah Allah swt ciptakan, kita membutuhkan uraian ilmu yang terkandung dalam al-Quránul karim sebagai mana perkataan DR. Zakir Naik[2]dalam Dialognya mengenai Ilmu pengetahuan dari sisi al-Qurán dan Injil beliau, mengatakan:
“al-Qurán bukanlah ilmu pengetahuan ia adalah buku tentang tanda, ia buku tentang ayat-ayat dan disana ada 6000 ayat dalam al-qurán yang agung yang di dalamnya ada lebih dari 1000 uraian tentang ilmu pengetahuan”. Yang didalamnya terdapat ribuan tanda bagi orang yang mau membuka mata pikiran dan hatinya, karena orang-orang yang mendengar tetapi tuli, melihat tetapi buta dan berbicara tetapi bisu. Sebagaimana Allah swt berfirman:
صُمُّ بُكْمٌ عُمْىُُ فَهُمْ لاَ يَرْجِعُونَ
Mereka tuli, bisu dan buta[3], Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. al-Baqarah, 18)
Ada dua pendekatan yang digunakan dalam mencari kebenaran antara kitab suci dan ilmu pengetahuan yaitu pendekatan kesesuaian dan pendekatan konflik. Yaitu pendekatan kesesuain antara kitab suci dan ilmu pengetahuan, atau pendekatan konflik dimana mencari ketidak samaan antara kitab suci dan ilmu pengetahuan, namun dengan pendekatan apapun al-Qurán sepanjang anda berpikir logis dan setelah penjelasan logis diberikan pada anda tak seorang dapat membuktikan satu ayat pun dalam kitab suci al-Qurán untuk dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan modern[4].
Dari penjabaran latar belakang diatas penulis ingin membuat beberapa hal yang menjadi perhatian atau yang akan dibahas dalam makalah ini menyangkut islamisasi ilmu pengetahuan, yaitu:
  1. Dua pengembang Islamisasi ilmu pengetahuan yang terkenal.
  2. Srategi dan kerangka kerja dasar islamisasi ilmu pengetahuan.
  3. Tiga Fase Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer.
B. Pembahasan
Pada hakekatnya ide Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Islamization of knowledge) ini tidak bisa dipisahkan dari pemikiran Islam di zaman moderen ini. Ide tersebut telah diproklamirkan sejak tahun 1981, yang sebelumnya sempat digulirkan di Mekkah sekitar tahun 1970-an.
Dalam islamisasi dikenal dua nama yang disebut-sebut sebagai penyebar faham ini keseluruh penjuru negeri, yaitu Naquib al-Attas dan Ismail al-Faruqi, dimana kedua sama-sama mengumandangkan Isu Islamisasi Ilmu Pengetahuan tetapi dengan dua jalan yang berlainan.
  1. Al-Attas vs Al-Faruqi[5]
Konstruk intelektual yang dinisbatkan pada peradaban tertentu, biasanya memiliki spektrum yang cukup luas.  Ia tidak bisa dibaca sebagai sesuatu yang tunggal dan serba seragam.  Demikian halnya dengan gagasan islamisasi ilmu pengetahuan yang mulai ramai diperbincangkan pada tahun 1970-an. Pada tahap perkembangan mutakhirnya, model islamisasi ilmu pengetahuan yang diajukan oleh berbagai sarjana Muslim dari berbagai disiplin ilmu, bisa dibedakan baik dari sisi pendekatan dan konsepsi dasarnya.  Terlebih pula jika melihat konstruk ilmu pengetahuan yang merupakan output dari pendekatan dan konsepsi dasar tersebut.
Namun ada beberapa konsep-konsep dasar yang menjadi titik persamaan gagasan islamisasi ilmu pengetahuan yang diajukan berbagai sarjana Muslim. Misalnya jika kita melihat pada dua nama yang cukup berpengaruh di dunia Islam dan dipandang sebagai pelopor gerakan islamisasi ilmu pengetahuan: Syed Muhamamd Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi.
Bagi Al-Attas misalnya, islamisasi ilmu pengetahuan mengacu kepada upaya mengeliminir unsur-unsur serta konsep-konsep pokok yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, khususnya dalam ilmu-ilmu kemanusiaan.  Tercakup dalam unsur-unsur dan konsep ini adalah cara pandang terhadap realitas yang dualistik, doktrin humanisme, serta tekanan kepada drama dan tragedi dalam kehidupan rohani sekaligus penguasaan terhadapnya.
Setelah proses ini dilampaui, langkah berikutnya adalah menanamkan unsur-unsur dan konsep pokok keislaman.  Sehingga dengan demikian akan terbentuk ilmu pengetahuan yang benar; ilmu pengetahuan yang selaras dengan fitrah.  Dalam bahasa lain, islamisasi ilmu pengetahuan menurut Al-Atas dapat ditangkap sebagai upaya pembebasan ilmu pengetahuan dari pemahaman berasaskan ideologi, makna serta ungkapan sekuler. Singkatnya menurut Al-Attas sukses tidaknya pengembangan islamisasi ilmu tergantung pada posisi manusia itu sendiri (subjek ilmu dan teknologi).
Sementara menurut Ismail al Faruqi, islamisasi ilmu pengetahuan dimaknai sebagai upaya pengintegrasian disipilin-disiplin ilmu modern dengan khazanah warisan Islam.
Langkah pertama dari upaya ini adalah dengan menguasai seluruh disiplin ilmu modern, memahaminya secara menyeluruh, dan mencapai tingkatan tertinggi yang ditawarkannya.  Setelah prasyarat ini dipenuhi, tahap berikutnya adalah melakukan eliminasi, mengubah, menginterpretasikan ulang dan mengadaptasikan komponen-komponennya dengan pandangan dunia Islam dan nilai-nilai yang tercakup di dalamnya.
Dalam deskripsi yang lebih jelas, islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Faruqi adalah “upaya mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologinya, strateginya, dan dalam apa yang dikatakan sebagai data-data, problemnya, tujuan-tujuannya dan aspirasi-aspirasinya.” Terkait dengan ini maka setiap disiplin ilmu mesti dirumuskan sejak awal dengan mengkaitkan Islam sebagai kesatuan yang membentuk tauhid, yaitu kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan dan kesatuan sejarah.  Ia harus didefinisikan dengan cara baru, data-datanya diatur, kesimpulan-kesimpulan dan tujuan-tujuannya dinilai dan dipikir ulang dalam bentuk yang dikehendaki Islam.
Di samping beberapa kesamaan pola dasar islamisasi ilmu pengetahuan sebagaimana dapat dilihat dari paparan di atas, agaknya ada segaris perbedaan di antara al-Attas dan al-Faruqi.  Al-Faruqi tampaknya lebih bisa menerima konstruk ilmu pengetahuan modern yang penting baginya adalah penguasaan terhadap prinsip-prinsip Islam yang dengannya sarjana Muslim bisa membaca dan menafsirkan konstruk ilmu pengetahuan modern tersebut dengan cara yang berbeda.  Sementara Al-Attas disamping pengaruh sufisme yang cukup kuat, antara lain dengan gagasan digunakannya takwil dalam kerangka islamisasi ilmu pengetahuannya lebih menekankan pada dikedepankannya keaslian (originality) yang digali dari tradisi lokal.
Dalam pandangan Al-Attas, peradaban Islam klasik telah cukup lama berinteraksi dengan peradaban lain, sehingga umat Islam sudah memiliki kapasitas untuk mengembangkan bangunan ilmu pengetahuan sendiri. Tanpa bantuan ilmu pengetahuan barat modern, diyakini dengan merujuk pada khazanahnya sendiri umat Islam akan mampu menciptakan kebangkitan peradaban.
Agaknya, perbedaan semacam ini, disamping faktor-faktor personal, yang membuat keduanya memilih mengembangkan gagasannya di lembaga yang berbeda. Jika al-Attas kemudian berkutat di International Institute of Islamic Thoughts and Civilization (ISTAC) yang berbasis di Malaysia. Al-Attas memformulasi dua tujuan pertama dari ISTAC:
1. Untuk mengonseptualisasi, menjelaskan dan mendefinisikan konsep-konsep penting yang relevan dalam masalah-masalah budaya, pendidikan, keilmuan dan epistimologi yang dihadapi muslim pada zaman sekarang ini.
2. Untuk memberikan jawaban Islam terhadap tantangan-tantangan intelektual dan kultural dari dunia modern dan berbagai kelompok aliran-aliran pemikiran, agama, dan ideologi.
Sementara itu al-Faruqi menyebarkan gagasannya lewat International Institute of Islamic Thoughts (IIIT) yang berbasis di Washington DC, Amerika Serikat. IIIT mendefinisikan dirinya sebagai sebuah “yayasan intelektual dan kultural” yang tujuannya mencakup:
  1. Menyediakan wawasan Islam yang komprehensif melalui penjelasan prinsip-prinsip Islam dan menghubungkannya dengan isu-isu yang relevan dari pemikiran kontemporer.
  2. Meraih kembali identitas intelektual, kultural dan peradaban umat, lewat Islamisasi humanitas dan ilmu-ilmu sosial.
  3. Memperbaiki metodologi pemikiran Islam agar mampu memulihkan sumbangannya kepada kemajuan peradaban manusia dan memberikan makna dan arahan, sejalan dengan nilai-nilai dan tujuan Islam.
  4. Srategi dan kerangka kerja dasar islamisasi ilmu pengetahuan[6]
Terdapat beberapa model skematis dalam upaya islamisasi ilmu pengetahuan. Al Faruqi misalnya menggagaskan sebuah rencana kerja dengan dua belas langkah:
1. Penguasaan dan kemahiran disiplin ilmu modern: penguraian kategori
2. Tinjauan disiplin ilmu
3. Penguasaan warisan ilmu Islam: sebuah antologi
4. Penguasaan warisan ilmu Islam: sebuah analisis
5. Penentuan penyesuaian Islam yang khusus terhadap disiplin ilmu
6. Penilaian kritikal terhadap disiplin ilmu modern: hakikat kedudukan pada masa kini.
7. Penilaian kritikal terhadap warisan Islam: tahap perkembangan pada masa kini.
8. Kajian masalah utama umat Islam
9. Kajian tentang masalah yang dihadapi oleh umat manusia
10. Analisis kreatif dan sintesis
11. Membentuk semua disiplin ilmu modern kedalam rangka kerja Islam: buku teks
universitas.
12. Penyebaran ilmu pengetahuan islam
Kemudian gagasan tersebut dijadikan lima landasan objek rencana kerja Islamisasi ilmu pengetahuan, yaitu:
  1. Penguasaan disiplin-disiplin ilmu pengetahuan modern.
  2. Penguasaan terhadap khazanah atau warisan keilmuan Islam.
  3. Penerapan ajaran-ajaran tertentu dalam Islam yang relevan ke setiap wilayah ilmu pengetahuan modern.
  4. Mencari sintesa kreatif antara khazanah atau tradisi Islam dengan ilmu pengetahuan modern.
  5. Memberikan arah bagi pemikiran Islam pada jalur yang memandu pemikiran tersebut ke arah pemenuhan kehendak Ilahiyah.
Dan juga dapat digunakan alat bantu lain guna mempercepat islamisasi ilmu pengetahuan adalah dengan mengadakan konferensi dan seminar-seminar serta melalui lokakarya untuk pembinaan intelektual.
Sementara Al-Attas menguraikan bahwa semua ilmu pengetahuan masa kini, secara keseluruhan dibangun, ditafsirkan dan diproyeksikan melalui pandangan dunia, visi intelektual dan persepsi psikologi dari kebudayaan dan peradaban Barat.
Ilmu pengetahuan Barat-modern dibangun di atas visi intelektual dan psikologis budaya dan peradaban Barat. (1) Akal diandalkan untuk membimbing kehidupan manusia; (2) bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran; (3) menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular; (4) membela doktrin humanisme; dan (5) menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominant dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.
Oleh karena itu, Islam harus menjadi acuan yang menentukan dalam prinsip utama setiap displin ilmu untuk setiap usaha dan perbuatan manusia. Ada empat poin yang harus diperhatikan, seperti:
1)      Prinsip-prinsip utama Islam sebagai intisari peradaban Islam,
2)      Pencapain sejarah kebudayaan Islam sebagai manifestasi ruang dan waktu dari prinsip-prinsip utama Islam,
3)      Bagaimaan kebudayaan Islam dibandingkan dan dibedakan dengan kebudayaan lain dari sudut manifestasi dan intisari,
4)      Bagaimaan kebudayaan Islam menjadi pilihan yang paling bermanfaat berkaitan dengan masalah-masalah pokok Islam dan non Islam di dunia saat ini.
Faktor lain selaras dengan pandangan di atas adalah masih menduanya sistem pendidikan. Pertama, sistem pendidikan “modern” dan kedua, sistem pendidikan “Islam”. Dualisme pendidikan ini melambangkan kejatuhan umat Islam. Hal ini perlu diatasi, jika tidak sistem dualisme tersebut akan tetap menjadi penghalang setiap usaha rekontruksi peradaban Islam.
Renungan ini sangat penting, karena apabila kita memperhatikan secara cermat, pengalaman masa lampau serta rencana masa depan menuju satu arah perubahan yang dinginkan, maka harus dimulai dari rumusan sistem pendidikan yang paripurna. Apa yang telah Al-Attas dan Al-Faruqi paparkan, itu merupakan langkah “dasar” untuk bertahannya peradaban Islam.
  1. Tiga Fase Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer[7]
Proses islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer memiliki tiga fase. Prof. Abdel Hamid Sabra, pakar sejarah sains yang berasal dari Universitas Harvard mengatakan, gerakan penerjemahan yang dilakukan oleh khalifah al-Ma’mun (w. 833 M) dengan mendirikan perpustakaan yang dinamakan dengan Bayt al-Hikmah sebagai pusat kajian, menunjukkan fase pertama dari tiga tahap islamisasi sains. Adapun tahap kedua, yaitu fase peralihan atau akuisisi, di mana sains Yunani hadir di hadapan peradaban Islam sebagai pendatang atau tamu yang sengaja diundang (an invited guest), bukan sebagai penjajah atau perusak (an invading force). Namun pada tahap ini Islam masih menjaga jarak serta berhati-hati selalu waspada. Kemudian tahap terakhir adalah fase penerimaan atau adopsi, di sini Islam telah mengambil dan menikmati apa yang dibawa serta oleh peradaban tersebut.
Pada saat itu pula kemudian lahirlah ilmuwan-ilmuwan hebat seperti: Jabir ibn Hayyan (w.815 M), al-Kindi (w.873), dan lain-lain. Proses ini tidak berhenti di sini saja namun terus berlanjut ke tahap asimilasi dan naturalisasi. Pada fase ini Islam telah mampu membuat dan mengkonsep ulang ilmu pengetahuan yang syarat akan nilai-nilai keislaman sehingga islam sanggup menjadi pionir dunia di bidang sains dan teknologi. Fase kematangan ini terus berlangsung selama kurang lebih 500 tahun lamanya, dan telah ditandai dengan hasil produktivitas yang tinggi dan tingkat orisinalitas keilmuwan yang benar-benar luar biasa.
Dari paparan di atas, kini jelaslah sudah bahwa islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer memiliki kebenaran-kebenaran tertentu sesuai dengan bingkai ruang dan waktu. Ada satu hal yang mungkin kadang terlupakan, yakni kesadaran akan setiap hasil pemikiran manusia yang selalu bersifat historis dan terikat oleh ruang dan waktu. Untuk itu gagasan islamisasi harus tetap dikembangkan, dilaksanakan, dan kemudian dievaluasi melalui konsep-konsep, ukuran serta standar sebagai produk “framework islami” yang selalu melibatkan “worldview Islam”.
C. Kesimpulan
Berdasarkan dari pembahasan diatas dapatlah diambil kesimpulan bahwa islamisasi ilmu pengetahuan sangatlah penting melihat dari keadaan umat islam yang hanya menjadi penonton bagi kehancuran dunia ini. Karena para ilmuan bukan islam ini hanya akan membawa kehancuran bagi ciptaan-ciptaan Allah swt. Hal-hal yang perlu dan harus dilakukan adalah:
  1. Generalisai pemahaman konsep aqidah islam pada seluruh institusi pendidikan khususnya institusi pendidikan muslim yang ada di Indonesia.
  2. Human Resouces Development atau pengembangan sumber daya manusia khususnya bagi pendidik atau tutor.
  3. Sosialisasi konsep aqidah islam pada seluruh aspek kehidupan baik latar belakang pendidikan maupun non pendidikan.
  4. Praktek kerja sebagai terapan dari pemahaman konsep aqidah islam bagi anak didik secara global baik nasional maupun internasional.
  5. Evaluasi diri atau feedback sebagai aktualisasi diri dari pemahaman konsep aqidah islam tersebut diatas (Islamisasi secara keseluruhan).
D. Daftar Isi
Nata Abudin. 2005. “Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an”. Jakarta: UIN Jakarta Press
Departeman Agama RI. “Al-Qur’an dan Terjemahannya”. Jakarta: PT. Syaamil Cipta Media.
Wan Mohd Nor Wan Daud. 2003. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas.Bandung: MIZAN Anggota IKAPI.
MAJALAH ISLAMIA. “Epistemologi Islam dan Problem Pemikiran Muslim Kontemporer”. Thn II No. 5 April-Juni 2005.
MAJALAH ISLAMIA. “Membangun Peradaban Islam dari Dewestranisasi Kepada Islamisasi Ilmu Pengetahuan”. Thn II No. 6, Juli-September 2005.

[1] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.
[2] President Islamic Research Foundation
[3] Walaupun pancaindera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu dan buta oleh Karena tidak dapat menerima kebenaran.
[4] Debat al-Qurán dan Injil dari sudut pandang ilmu pengetehuan antara Dr. William Cambell (Pennysylvania, USA) dan Dr. Zakir Naik (Mumbai, India). 2000
[6] Ibid, hal

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar